Dibutuhkan teknisi komputerSyarat :Pria / WanitaMin D1Pengalaman min 2thKirim lamaran ke :Fingerspot JogjaJl. Parangtritis 142A (utara pom bensin jogokaryan)JogjakartaTelp : 0274-386095/386096support by : www.fingerspot.com
Subhanallah... Masya Allah... Kemana perginya keadilan? Kemana perginya rasa kemanusiaan? Sungguh Terlalu....Kata-kata itulah yang pertama yang terlintas di pikiran dan perasaan Ela, gimana bisa seorang nenek yang hanya berpikir mengambil 3 buah biji kakao untuk bibit harus berhadapan dengan persidangan meja hijau dengan tuntutan 6 bulan penjara, emang brapa juta sih rugi nya tuh PT diambil biji kakaonya 3 buah. Sementara para koruptor-koruptor yang notabene melakukan penggelapan berjuta-juta bahkan sampai kita-kita rakyat biasa ini gak bisa menghitungnya malah bebas berkeliaran kesana-kesini, shoping sana shoping sini, liburan sana liburan sini, ndak cuma dalam negri bung dah merambah kmana-mana, seluruh dunia!!! Sebenarnya melek ndak sih tuh tim penuntut? Ndak punya hati ya, jangan pake alasan "Saya cuma menjalankan perintah!" Naudzubillah...Kemarin-kemarin marak dengan kasus Cicak vs Buaya dikalangan atas, nah ini lebih parah lagi malah... Emang bener deh kalo keadilan dan hukum dunia itu adalah UANG!!! Cuma hukum Allah disana nanti yang Pasti!!!Ela cuma bisa nangis waktu melihat di TV dengan polos nenek cuma menjawab yang sejujurnya karena memang itulah adanya. Apa ndak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan? Udah dikembalikan dan minta maaf kok masih di permasalahkan, sebegitu tak terima nya atau hanya ingin cari sensasi belaka? Ela hanya memaki-maki dalam hati sambil berdo'a semoga nenek Minah diberikan kesabaran atas ujian Allah ini. Y emang salah sih kalo ngambil ga ngomong itu mencuri, tapi kan udahminta maaf + udah dikembalikan, masih merasa dirugikan???"Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao. Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao. Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos, Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri. Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja. Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto."Dikutip dari www.detiknews.comSedih ya? Seorang nenek yang dimata Ela tidak pantas menerima semua tu malah menerima hal pahit seperti itu sementara entah siapa yang mungkin banyak dari kita tahu perbuatan terkutuknya malah bebas berkeliaran entah kmana. Keadilan itu akan ada di akhir zaman tapi manusia tak semua nya hidup sampai zaman itu tiba.
Mungkin inilah salah satu tanda-tanda kiamat kecil "Sugro", ah apakah Ela masih hidup untuk melihat keadilan yang sebenarnya? Ataukah telah tiada hingga keadilan yang sebenarnya pun kian sirna?
Subhanallah... Hanya Allah lah yang mengetahui taqdir alam semesta.
"Besok kita jadi berangkat ke Dieng ya?" Teriak seorang teman ku yang bertindak sebagai panitia disambut dengan sorak sorai teman-teman ku yang lain, termasuk aku.
Dengan semangat pamuda yang menggelora, ku persiapkan semua perlengkapan perjalanan menuju Dieng, mulai dari baju, jaket, makanan, minuman, peralatan mandi walaupun blum tentu mandi disana nanti hehe, kotak P3K yang memuat berbagai kebutuhan medis seperti balsem, minyak kayu putih, obat sakit kepala, obat maag, obat merah dan lain sebagainya. Tak lupa juga beberapa lembar ribuan dan recehan serta Road Map Of Dieng untuk berjaga-jaga seandainya tersesat hehehe.
Rasa nya malam yang ku lalui hari ini begitu lama sehingga tak sadar aku tertidur lelah setelah mempersiapkan semua perbekalan. Fiuuh... Terus terbayang-bayang dalam hasrat ku betapa mempesonanya kharisma alam dataran tinggi Dieng, tak sabar rasa nya menyongsong esok.
Pagi yang mempesona, sudah lama ku dambakan bisa menikmati suasana pegunungan Dieng yang menurut pengamatan orang begitu indah dan menyegarkan. Maklum aku belum pernah ksana sebelum nya, jadi begitu penasaran dengan keindahan panorama dataran tinggi Dieng yang membuat banyak orang begitu terkesima. Ku buka dengan seberkas senyum di bibir ku, dengan perasaan menggebu-gebu dan keharuan yang mendalam karena salah satu keinginan ku yaitu berkunjung ke Dieng akan segera terlaksana. Aku bangkit dari tempat tidur ku yang nyaman segera bersiap merapikan segala keperluan perjalanan, mengecek semua barang yang akan ku bawa serta. Ahh... Rasa nya tak sabar menunggu dataran tinggi Dieng membelaikan angin kesejukan pada ku. Hihihi, begitu bahagianya aku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Teman-teman sudah berkumpul dengan wajah yang berseri-seri, menandakan betapa girangnya mereka menanti datangnya hari ini. Sama seperti ku, mereka juga membawa banyak kebutuhan tersembunyi dalam tas masing-masing."Ela, kamu bawa apa aja?" tanya Arni, teman 1 kos ku.
"Hehe, biasa... Kaya kamu juga." Jawab ku
"Semua sudah kumpul?" Teriak salah seorang diantara kami
" Baiklah, hari ini kita akan berwisata ke dataran tinggi Dieng. Saya tahu kalian pasti sudah tidak sabar lagi ingin segera menikmati keindahan alam disana. Karena itu saya menghibau, agar tidak ada yang tertinggal mohon periksa barang bawaan masing-masing. Setelah itu kita bisa bersama-sama menikmati keindahan Dieng tanpa terganggu suatu apa pun." Lanjut orang itu panjang lebar.
Segera kami periksan semua barang bawaan kami agar tidak ada yang tertinggal. Semua sudah siap, saatnya melanjutkan perjalanan ke daerah dengan panorama alam yang indah "Dataran Tinggi Dieng".
Kami berangkat dengan naik motor dan saling berboncengan. Tak sabar rasanya ingin segera tiba hingga perjalanan ini terasa lama, tapi kami semua tetap dengan perasaan senang dan penasaran.
Subhanallah, sesampainya disana ku lihat betapa indahnya panorama alam Dieng ini.
Tidak menyesal aku dan teman-teman menempuh beberapa jam perjalanan dari Jogja ke Dieng untuk menikmati indah pemandangan dan kesejukan udaranya. Langung saja aku dan teman-teman ku beraksi, kami jepret sana jepret sini, action sana action sini bak foto model gadungan. tidak kami lewatkan setiap sudut indah dataran ini, setiap sudut pegunungan yang terlihat menjulang tinggi tanda keagungan Allah SWt, setiap bentuk candi yang kokoh berdiri tanda kebesaran Allah SWT, setiap hamparan sungai yang terbentang menandakan betapa karunia Allah SWT melebihi ciptaan NYA.
Aku hanya bisa tersenyum, dengan mata basah walaupun tak sampai menetes. Betapa indahnya... Terus menerus ku kagumi keindahan dan kebesaran Penciptanya. Aku terlarut dalam rasa kagum ku, dalam lamunan ku betapa bahagia nya seandainya semua daerah di indonesia masih alami dan natural seperti ini.
"Mbak, maaf mbak..."
Ada seseorang menepuk bahu ku. Aku tersadar...
"Maaf mbak, bisa tunjukkan karcis nya...?"
Haaah.... aku tercengang, tiba-tiba semua yang terjadi musnah begitu saja. Dimana keindahan alam Dieng yang ku rasakan tadi? Dimana sejuk udara yang ku hirup dengan penuh kelegaan tadi? Semua nya sudah berganti.
Astaghfirullah, ternyata semua keindahan dan kesejukan tadi adalah bunga mimpi yang bersarang dalam kalbu ku. Betapa ingin nya aku ke menikmati bersama teman-teman ku yang berangkat hari ini, berbuah menjadi bunga tidur semata. Karena sekarang aku berada di dalam sebuah kereta yang membawaku menuju suatu tempat, tapi bukan Dieng. Rasa kecewa ada dalam benak ku, namun apalah daya semua itu ternyata hanya mimpi semata.